Langit Jakarta sore itu
sepertinya sedang bermuram durja. Awan kelabu terlihat terbang rendah tepat di
atas kepala Gue. Mengeksperikan kesedihan layaknya seorang JONES (Jomblo Ngenes) yang akan
mengarungi hujan badai sendirian di tengah keramaian megapolitan.
Cuaca sore
itu seakan tidak mau kalah dengan nilai UTS metodologi penelitian yang baru
diumumkan tadi siang. C minus. Suraaaaam!!!. Begitu sempurnanya hari ini bagi seorang
jomblo dengan tingkat inteligensia pas-pasan seperti Gue.
Gue pun pulang kuliah
tanpa semangat, letih, lesu, lunglai, dan tergopoh-gopoh memaksakan diri
mengejar bis kota yang akan segera berangkat dari halte di depan kampus Gue.
“Fyuuuh... hampir saja ketinggalan”
bisik gue dalam hati.
Sopir bis pun langsung menginjak gas dengan kencang menuju halte
selanjutnya. Setibanya
di halte transit di kawasan Senayan, Gue bergegas keluar dari bis karena hujan
rintik-rintik telah menampakkan dirinya. Halte ini kelihatannya
tidak mampu
berperan sebagai tempat berteduh lagi ketika butiran hujan rintik-rintik berganti
menjadi derasnya hujan badai. Gue pun mulai kehujanan. Kehujanan dan seorang
diri di halte itu pokoknya sesuatu banget deh.
Bersamaan dengan deretan
pengendara motor yang menepi untuk menghindari jalanan yang mulai tergenang
air, tampak sesosok gadis manis turun dari bis. Segera setelah turun dari bis,
ia langsung berlari menuju halte tempat di mana Gue sedang berteduh. Kehujanan,
sama seperti Gue.
Mungkin karena
kedinginan ia pun mengeluarkan sebuah jaket
dari tasnya.
Dari jaket itu munculah logo fakultas pertanian universitas ternama kota
Bandung.
“Waaah... anak pertanian
juga ternyata” ucap Gue dalam hati.
Ingin rasanya menyapa
dirinya tapi entah mengapa otot dan sendi di rahang
Gue
seakan kaku
membeku. Yang ada di pikiran Gue ketika melihat gadis itu adalah langit kelabu
yang seketika berubah menjadi lebih berwarna dengan ditemani mentari senja yang
enggan tenggelam lebih awal.
Gue cuma berani menoleh
ke arah samping, di mana sisi wajah sebelah kanannya terlihat jelas. Mungkin
karena tersadar Gue memperhatikannya sedari tadi, ia segera
menoleh ke arah Gue. Gue pun mulai panik dan segera mengalihkan pandangan ke
arah jalanan yang telah digenangi oleh air hujan. Kemudian hal yang tak
terduga terjadi, tiba-tiba saja ia menyapa Gue duluan.
“Hujannya udah lama ya?” tanya nya.
Jantung ini langsung berdegup kencang, sekencang laju bis yang barusan
Gue tumpangi.
Gue sempat terdiam sejenak sebelum lidah dan bibir ini mampu bergerak,
“eemmm… iya nih hujannya udah lumayan lama” balas gue.
Ketika dia menoleh ke arah Gue, terlihat tulisan “Melody Nurramdhani Laksani”
di bagian kanan jaketnya.
“Oh... namanya Melody… indah nian, sama seperti orangnya” bisik Gue
dalam hati.
“Mau pulang ke arah mana?” ujar Gue memberanikan diri bertanya.
“Mau ke Bandung, ini lagi nunggu jemputan” balasnya dengan ekpresi wajah
yang bisa membuat setiap pria tak mampu berkedip.
“Bakal dijemput pacarnya nih” pikir Gue. Daripada sakit hati mending PDKT
dan SKSD nya Gue hentikan sekarang juga. Ingat! sakit hati itu lebih perih dari
sakit gigi.
Setelah beberapa saat Gue dan dia membisu, tampak sebuah mobil merah bergenre
city car perlahan merapat ke arah halte tempat kami berteduh. Sesaat ketika
mobil itu berhenti, kaca pintu pun terbuka. Terlihat sepasang pria
dan wanita dari bagian depan mobil memanggil-manggil dirinya.
“Melody!”
“Papa mama” sambutnya.
“Aku duluan ya” ujarnya pada Gue.
Ia pun langsung membentangkan jaket untuk menutup kepalanya dari hujan sambil
berlari ke arah mobil itu.
Tanpa sempat membalas, Gue hanya bisa terdiam seraya menoleh ke arah laju
mobil yang sedikit demi sedikit hilang disapu kabut hujan.
“Oh... ternyata dia dijemput oleh orangtuanya bukan pacarnya” sesalku
dalam hati.
Kini tersisa Gue sendiri di tengah hujan badai yang tak kunjung berhenti.
Langit pun seakan kembali menjadi gelap
gulita, segelap takdir jodoh Gue yang sekarang entah ada di mana.
Tepat setelah kejadian
itu, Gue ingin sekali mendendangkan lirik berikut
ini:
“Ingatlah kembali
Kita menunggu hujan mendadak untuk berhenti
Ingatlah kembali
Hujan yang menghantam atap, kenapa aku jadi berdebar...”
“Ternyata diriku mungkin suka kepadamu
Hujan mendadak kuharap tidak berhenti
Ternyata diriku rasanya semenjak tadi
Telah terus melihat wajah sampingmu...”
Dan kemudian diikuti oleh rasa sesal yang mulai mengganjal di hati.
Aaaarrgghh... kenapa
pada saat itu rasanya waktu berjalan lebih cepat dari hari di
kalender?
Aaaarrgghh... kenapa
pada saat itu Gue gak sempat memperkenalkan diri?
Aaaarrgghh... kenapa
pada saat itu Gue lupa minta nomor HP nya?
Penyesalan emang selalu
datang belakangan. Dari pada mati penasaran, akhirnya sore itu Gue habiskan
dengan berjalan pulang ke rumah sambil hujan-hujanan. Biarlah derasnya hujan
setia
menemani diriku di bawah bayang-bayang manis dirinya.
~ Berdelusilah sebelum berdelusi itu dilarang :) ~
copyright: @delusijeketi48
minA
Tweet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar