Kamis, 31 Oktober 2013

Hujan, Kehujanan, Hujan-hujanan...

Langit Jakarta sore itu sepertinya sedang bermuram durja. Awan kelabu terlihat terbang rendah tepat di atas kepala Gue. Mengeksperikan kesedihan layaknya  seorang JONES (Jomblo Ngenes) yang akan mengarungi hujan badai sendirian di tengah keramaian megapolitan. Cuaca sore itu seakan tidak mau kalah dengan nilai UTS metodologi penelitian yang baru diumumkan tadi siang. C minus. Suraaaaam!!!. Begitu sempurnanya hari ini bagi seorang jomblo dengan tingkat inteligensia pas-pasan seperti Gue.

Gue pun pulang kuliah tanpa semangat, letih, lesu, lunglai, dan tergopoh-gopoh memaksakan diri mengejar bis kota yang akan segera berangkat dari halte di depan kampus Gue.
“Fyuuuh... hampir saja ketinggalan” bisik gue dalam hati.
Sopir bis pun langsung menginjak gas dengan kencang menuju halte selanjutnya. Setibanya di halte transit di kawasan Senayan, Gue bergegas keluar dari bis karena hujan rintik-rintik telah menampakkan dirinya. Halte ini kelihatannya tidak mampu berperan sebagai tempat berteduh lagi ketika butiran hujan rintik-rintik berganti menjadi derasnya hujan badai. Gue pun mulai kehujanan. Kehujanan dan seorang diri di halte itu pokoknya sesuatu banget deh.

Bersamaan dengan deretan pengendara motor yang menepi untuk menghindari jalanan yang mulai tergenang air, tampak sesosok gadis manis turun dari bis. Segera setelah turun dari bis, ia langsung berlari menuju halte tempat di mana Gue sedang berteduh. Kehujanan, sama seperti Gue.

Mungkin karena kedinginan ia pun mengeluarkan sebuah jaket dari tasnya. Dari jaket itu munculah logo fakultas pertanian universitas ternama kota Bandung.
“Waaah... anak pertanian juga ternyata” ucap Gue dalam hati.
Ingin rasanya menyapa dirinya tapi entah mengapa otot dan sendi di rahang Gue seakan kaku membeku. Yang ada di pikiran Gue ketika melihat gadis itu adalah langit kelabu yang seketika berubah menjadi lebih berwarna dengan ditemani mentari senja yang enggan tenggelam lebih awal.

Gue cuma berani menoleh ke arah samping, di mana sisi wajah sebelah kanannya terlihat jelas. Mungkin karena tersadar Gue memperhatikannya sedari tadi, ia segera menoleh ke arah Gue. Gue pun mulai panik dan segera mengalihkan pandangan ke arah jalanan yang telah digenangi oleh air hujan. Kemudian hal yang tak terduga terjadi, tiba-tiba saja ia menyapa Gue duluan.
“Hujannya udah lama ya?” tanya nya.
Jantung ini langsung berdegup kencang, sekencang laju bis yang barusan Gue tumpangi.
Gue sempat terdiam sejenak sebelum lidah dan bibir ini mampu bergerak,
“eemmm… iya nih hujannya udah lumayan lama” balas gue. 
   
Ketika dia menoleh ke arah Gue, terlihat tulisan “Melody Nurramdhani Laksani” di bagian kanan jaketnya.
“Oh... namanya Melody… indah nian, sama seperti orangnya” bisik Gue dalam hati.
“Mau pulang ke arah mana?” ujar Gue memberanikan diri bertanya.
“Mau ke Bandung, ini lagi nunggu jemputan” balasnya dengan ekpresi wajah yang bisa membuat setiap pria tak mampu berkedip.
“Bakal dijemput pacarnya nih” pikir Gue. Daripada sakit hati mending PDKT dan SKSD nya Gue hentikan sekarang juga. Ingat! sakit hati itu lebih perih dari sakit gigi.  

Setelah beberapa saat Gue dan dia membisu, tampak sebuah mobil merah bergenre city car perlahan merapat ke arah halte tempat kami berteduh. Sesaat ketika mobil itu berhenti, kaca pintu pun terbuka. Terlihat sepasang pria dan wanita dari bagian depan mobil memanggil-manggil dirinya.
“Melody!”
“Papa mama” sambutnya.
“Aku duluan ya” ujarnya pada Gue.
Ia pun langsung membentangkan jaket untuk menutup kepalanya dari hujan sambil berlari ke arah mobil itu.

Tanpa sempat membalas, Gue hanya bisa terdiam seraya menoleh ke arah laju mobil yang sedikit demi sedikit hilang disapu kabut hujan.
“Oh... ternyata dia dijemput oleh orangtuanya bukan pacarnya” sesalku dalam hati.
Kini tersisa Gue sendiri di tengah hujan badai yang tak kunjung berhenti. Langit  pun seakan kembali menjadi gelap gulita, segelap takdir jodoh Gue yang sekarang entah ada di mana.

Tepat setelah kejadian itu, Gue ingin sekali mendendangkan lirik berikut ini:

“Ingatlah kembali
Kita menunggu hujan mendadak untuk berhenti
Ingatlah kembali
Hujan yang menghantam atap, kenapa aku jadi berdebar...”

“Ternyata diriku mungkin suka kepadamu
Hujan mendadak kuharap tidak berhenti
Ternyata diriku rasanya semenjak tadi
Telah terus melihat wajah sampingmu...”

Dan kemudian diikuti oleh rasa sesal yang mulai mengganjal di hati.

Aaaarrgghh... kenapa pada saat itu rasanya waktu berjalan lebih cepat dari hari di kalender?
Aaaarrgghh... kenapa pada saat itu Gue gak sempat memperkenalkan diri?
Aaaarrgghh... kenapa pada saat itu Gue lupa minta nomor HP nya?

Penyesalan emang selalu datang belakangan. Dari pada mati penasaran, akhirnya sore itu Gue habiskan dengan berjalan pulang ke rumah sambil hujan-hujanan. Biarlah derasnya hujan setia menemani diriku di bawah bayang-bayang manis dirinya.   

~ Berdelusilah sebelum berdelusi itu dilarang :) ~


copyright: @delusijeketi48
minA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar